Diana hanya bisa mengingat hari terakhir bertemu dengan Dan sekitar 2 bulan yang lalu. Komunikasi seminggu pertama lancar. Merah hijau kuning bagai bunga, demikian juga hati Diana. Memasuki satu bulan terakhir nafas Dia tersendat lagi, apalagi kalau bukan karena kelakuan Dan. Untuk kesekian kali kesabaran Dia masih diuji. Dan menghilang timbul tenggelam tak ada kabar berita.
"Aku sedang ada urusan dan aku ada di luar kota, Di..", demikan bacaan singkat di ponsel Dia setiap kali ditanya ada apa dan mengapa. Jawaban yang memuakkan bagi Dia. Yang ada Dia uring-uringan bawaannya marah. Semakin marah, Dan semakin diam. Diana tahu watak Dan tapi Diana nekad. Terus menerus mempertanyakan komunikasi yang tak
lancar.
Terakhir bahkan, Dan memberitahukan kalau Dia tak perlu lagi mengirim sms atau telpon via ponsel. Gila apa? Lewat apa aku harus komunikasi dengan kamu, Dan... teriaknya. Mengapa kamu tega berbuat seperti ini kepadaku... Kutanyakan kepadamu waktu itu, "Dan, apakah engkau menginginkan perempuan lain?" Kau jawab dengan tegas, "Tidak". "Dan, apakah engkau masih sayang aku?" Kau jawab lantang,"Ya, Diana. AKu akan selalu sayang kamu sampai kapanpun".
Dua bulan berlalu, Dan... aku sangat rindu padamu
Mungkin tak ada yang istimewa, namun dalam hidup tak ada yang tak istimewa jika kita melihat dari sisi positif. Yang tertuang hanyalah sebagian kecil dari isi kepala yang penuh inspirasi, ide dan imaginasi, sebab jika tak dituang dalam kata, kepala tak mampu menampung hal baru. Silakan berbagi...
Jumat, November 27, 2009
DI UJUNG TANDUK
Kala asaku bergoyang di ujung tanduk
berkalung sekarat berkedip-kedip lemah
jika pupus, musna nyawa sudah
lelah menempuh jalan lautan saat
Malam itu dian sedikit sedikit berminyak
aku menatap
nyalanya mulai berpendar-pendar
aku tak percaya
Bibirku bergetar coba meraba
ternyata realita
Pandangi mukjijat kecil yang terjadi
asaku masih sepanjang jalan
biarlah kupupuk agar tumbuh
akan kusiram setiap surya datang
sebagai ungkap syukur dan bakti
pada Sang Waktu yang telah beri
berkalung sekarat berkedip-kedip lemah
jika pupus, musna nyawa sudah
lelah menempuh jalan lautan saat
Malam itu dian sedikit sedikit berminyak
aku menatap
nyalanya mulai berpendar-pendar
aku tak percaya
Bibirku bergetar coba meraba
ternyata realita
Pandangi mukjijat kecil yang terjadi
asaku masih sepanjang jalan
biarlah kupupuk agar tumbuh
akan kusiram setiap surya datang
sebagai ungkap syukur dan bakti
pada Sang Waktu yang telah beri
Selasa, November 10, 2009
KUDENGAR SUARAMU
Semalam kudengar suaramu...
menyejukkan dalam duka duriku
membangkitkan seribu suka
yang jutaan detik telah mati
sesak gembira berdesak-desak
tak ingin lepaskan irama
detak jantung yang mengejar
demi sebuah kerinduan
nada bas terngiang-ngiang
tertiup bayu menyentuh kalbu
malaikatpun berbaris berarak
menyambut sang hati...
janganlah kau ambil lagi bahagiaku
menyejukkan dalam duka duriku
membangkitkan seribu suka
yang jutaan detik telah mati
sesak gembira berdesak-desak
tak ingin lepaskan irama
detak jantung yang mengejar
demi sebuah kerinduan
nada bas terngiang-ngiang
tertiup bayu menyentuh kalbu
malaikatpun berbaris berarak
menyambut sang hati...
janganlah kau ambil lagi bahagiaku
Jumat, Oktober 30, 2009
SOPHIA BERKATA
Sophia berkata :
ijinkan aku mengerti akan semua misteri ini
agar tak kelam lagi jalanku
kembali bening sebening janjimu
ijinkan aku basuh lelah jiwamu
dengan selendang warna pelangi
yang telah kita rajut siang malam
ijinkan aku kembali menikmati
jerat hangat dalam dekap senyummu
menuju arus telaga surga berwarna
aku ingin selalu bersamamu
kembalilah secepat sang bayu
jemput di tempat aku menunggu
engkau akan tahu betapa aku merindu
ijinkan aku mengerti akan semua misteri ini
agar tak kelam lagi jalanku
kembali bening sebening janjimu
ijinkan aku basuh lelah jiwamu
dengan selendang warna pelangi
yang telah kita rajut siang malam
ijinkan aku kembali menikmati
jerat hangat dalam dekap senyummu
menuju arus telaga surga berwarna
aku ingin selalu bersamamu
kembalilah secepat sang bayu
jemput di tempat aku menunggu
engkau akan tahu betapa aku merindu
SEMBILAN BELAS BULAN SEMBILAN
tanggal sembilan belas bulan sembilan tahun ini
aku memaknainya penuh bunga
pasti engkau juga tak kan lupa
sepanjang pagi hingga siang merambat
tak secuilpun aku tanpamu
hambar kutiti saat ketika kudapati diriku
berteman kerinduan yang tak berkesudahan
pilu memanggil namamu tiada henti
sulitnya menghapus onak air di pipi
rinduku entah dengan apa harus kugambarkan
sayangku entah bagaimana harus kubuktikan
yang kujalani hanyalah melayang.....
menahan kesabaran berujung bahagia
waktu....
jemputlah kekasihku di ujung dunia
atau...
bawalah aku ke ujung dunia itu
agar semua hampa ini berakhir sudah
LILIN KESEMBILAN
Ketika bunda tau engkau semakin tumbuh melihatmu tertawa dan menangis
engkau sedang berjuang
untuk semakin dewasa dan mengerti
apa itu kehidupan
menjadi bayi, bocah dan anak
tak banyak yang ibu berikan
hanya yang bisa kamu nikmati
dari kecil hingga tak terhingga
sepanjang hidupmu...
pagi itu lilin ke 9 kau tiup
masih dengan mata sisa tidur semalam tapi bunda tau
kau akan selalu bahagia
jalani hidupmu dengan kesabaran, Nak
jalanmu masih panjang membentang
Selasa, Oktober 20, 2009
BARISAN KATA SINGKAT
Diana sedang tercenung memandangi barisan kata di layar monitor komputer. Apa lagi yang sedang kau perbuat untukku, Dan? Mengapa selalu ada kendala untuk komunikasi kita? Benak Diana penuh tanya.
Dan, kekasih jiwa yang selalu berada di hatinya. Cukup manis dan hangat hubungan mereka untuk sepasang kekasih yang sedang memadu asmara. Penuh warna. Jalinan mereka penuh kerikil, tidak mudah bagi Diana juga Dan melakoni relasi yang penuh makna. Sudah seminggu diana dilarang sms. Telpon hanya diperbolehkan jika Dan menginginkan dengan sms terlebih dahulu. Diana bingung. Sungguh bingung.
Bagaimana mungkin aku harus menunggu sms Dan untuk mau menelponnya? Dan, kalau aku butuh bicara denganmu dalam 5 menit mendatang, bagaimana kamu bisa tau kebutuhanku untuk bicara denganmu? Aku terpenjara dalam keadaan yang tidak kumengerti, dan.
Seperti sekarang, aku ingin bertemu denganmu. Tapi yang kudapat hanya barisa ini yang kupandangi dari tadi. "Diana, aku berterima kasih karena kamu sudah jarang sms aku. Aku banyak pekerjaan dan saat ini aku sangat sibuk. Aku selalu sayang kamu, Dia. Bagaimana mungkin aku melupakan hubungan kita. Kita akan tetap selalu dekat. Bersabarlah. Semua demi kebaikan kita, kebaikan kamu dan aku".
Dan, kekasih jiwa yang selalu berada di hatinya. Cukup manis dan hangat hubungan mereka untuk sepasang kekasih yang sedang memadu asmara. Penuh warna. Jalinan mereka penuh kerikil, tidak mudah bagi Diana juga Dan melakoni relasi yang penuh makna. Sudah seminggu diana dilarang sms. Telpon hanya diperbolehkan jika Dan menginginkan dengan sms terlebih dahulu. Diana bingung. Sungguh bingung.
Bagaimana mungkin aku harus menunggu sms Dan untuk mau menelponnya? Dan, kalau aku butuh bicara denganmu dalam 5 menit mendatang, bagaimana kamu bisa tau kebutuhanku untuk bicara denganmu? Aku terpenjara dalam keadaan yang tidak kumengerti, dan.
Seperti sekarang, aku ingin bertemu denganmu. Tapi yang kudapat hanya barisa ini yang kupandangi dari tadi. "Diana, aku berterima kasih karena kamu sudah jarang sms aku. Aku banyak pekerjaan dan saat ini aku sangat sibuk. Aku selalu sayang kamu, Dia. Bagaimana mungkin aku melupakan hubungan kita. Kita akan tetap selalu dekat. Bersabarlah. Semua demi kebaikan kita, kebaikan kamu dan aku".
Langganan:
Postingan (Atom)