Tampilkan postingan dengan label Cermin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cermin. Tampilkan semua postingan

Senin, September 13, 2010

rahasia hati Nadia

Sore kala itu, masih ingat dalam ingatan Nad. Di pojok sebuah rumah makan mini yang ada di bandara Soekarno Hatta, habiskan waktu bersama Rei. Tak bosan-bosannya Nad memandangi wajah Rei dan ia telah temukan keindahan. Bertemu, berbincang dan berdekatan dengan Rei, seperti mimpi saja. Seperti angannya waktu itu...

Nad tak akan salah dengan yang sudah dilakukan. Ingin bertemu Rei dan saat inilah kesempatannya. Seperti di meja judi, bisa menang bisa juga kalah. Karena saat memintanya hanya dalam hitungan kurang dari 4 jam dari check in time. Karena bisa saja, Rei menolak. Mendadak. Yahhh gimana tidak mendadak Rei, keraguanlah yang menghalangiku. Apakah engkau mau meluangkan waktu untukku? Itu saja yang menjadi kegundahanku, batin Nad saat itu.

Pupus semua bayangan semu itu, selamat datang kegembiraan. Dan sore itu -menjelang sore tepatnya- tak bisa dibayangkan sinar yang terpancar dari wajah Nad. Nad tau isi hatinya, seperti yang dulu pernah ia simpan. Rei sudah mengetahuinya, Rei sudah tau rahasia yang disimpannya.

Jumat, November 27, 2009

HARI TERAKHIR

Diana hanya bisa mengingat hari terakhir bertemu dengan Dan sekitar 2 bulan yang lalu. Komunikasi seminggu pertama lancar. Merah hijau kuning bagai bunga, demikian juga hati Diana. Memasuki satu bulan terakhir nafas Dia tersendat lagi, apalagi kalau bukan karena kelakuan Dan. Untuk kesekian kali kesabaran Dia masih diuji. Dan menghilang timbul tenggelam tak ada kabar berita.

"Aku sedang ada urusan dan aku ada di luar kota, Di..", demikan bacaan singkat di ponsel Dia setiap kali ditanya ada apa dan mengapa. Jawaban yang memuakkan bagi Dia. Yang ada Dia uring-uringan bawaannya marah. Semakin marah, Dan semakin diam. Diana tahu watak Dan tapi Diana nekad. Terus menerus mempertanyakan komunikasi yang tak
lancar.

Terakhir bahkan, Dan memberitahukan kalau Dia tak perlu lagi mengirim sms atau telpon via ponsel. Gila apa? Lewat apa aku harus komunikasi dengan kamu, Dan... teriaknya. Mengapa kamu tega berbuat seperti ini kepadaku... Kutanyakan kepadamu waktu itu, "Dan, apakah engkau menginginkan perempuan lain?" Kau jawab dengan tegas, "Tidak". "Dan, apakah engkau masih sayang aku?" Kau jawab lantang,"Ya, Diana. AKu akan selalu sayang kamu sampai kapanpun".

Dua bulan berlalu, Dan... aku sangat rindu padamu

Selasa, Oktober 20, 2009

BARISAN KATA SINGKAT

Diana sedang tercenung memandangi barisan kata di layar monitor komputer. Apa lagi yang sedang kau perbuat untukku, Dan? Mengapa selalu ada kendala untuk komunikasi kita? Benak Diana penuh tanya.

Dan, kekasih jiwa yang selalu berada di hatinya. Cukup manis dan hangat hubungan mereka untuk sepasang kekasih yang sedang memadu asmara. Penuh warna. Jalinan mereka penuh kerikil, tidak mudah bagi Diana juga Dan melakoni relasi yang penuh makna. Sudah seminggu diana dilarang sms. Telpon hanya diperbolehkan jika Dan menginginkan dengan sms terlebih dahulu. Diana bingung. Sungguh bingung.

Bagaimana mungkin aku harus menunggu sms Dan untuk mau menelponnya? Dan, kalau aku butuh bicara denganmu dalam 5 menit mendatang, bagaimana kamu bisa tau kebutuhanku untuk bicara denganmu? Aku terpenjara dalam keadaan yang tidak kumengerti, dan.

Seperti sekarang, aku ingin bertemu denganmu. Tapi yang kudapat hanya barisa ini yang kupandangi dari tadi. "Diana, aku berterima kasih karena kamu sudah jarang sms aku. Aku banyak pekerjaan dan saat ini aku sangat sibuk. Aku selalu sayang kamu, Dia. Bagaimana mungkin aku melupakan hubungan kita. Kita akan tetap selalu dekat. Bersabarlah. Semua demi kebaikan kita, kebaikan kamu dan aku".

Jumat, September 11, 2009

KESAL SEGUNUNG (2)


Diana mendapatkan dirinya terlalu lelah. Dayanya menguap seiring habisnya kekuatan untuk menghubungi Dan, pujaan yang bertahta di hatinya. Sepulang dari sore hampa karena Dan mengingkari janji bertemu, Dia berusaha menghubungi ponsel Dan. Kemarahan sudah lewat, hanya ada kepasrahan dan beribu tanya membekas pikiran Dia.

Sepanjang perjalanan tangannya otomatis menekan nomer yang dia hafal, bahkan sembari terpejam sekali pun, tangannya akan dengan benar mencet nomer kekasihnya. Bukan tidak aktif, justru nada masuk yang menjerit-jerit namun tidak ada jawaban di seberang sana. Kemanakah dirimu, wahai matahariku?, teriak hati Dia. Beberapa terakhir sesudah itu malah ponsel Dan sibuk. Lengkap sudahlah penderitaan Dia sehari ini.

Hanya short message saja yang terkirim berharap Dan membaca dan tergerak hatinya. Terbuat dari apakah hatimu, sayang? Lupakah dengan yang kamu katakan kemarin, ketika pelangi warnai hidup kita. Ketika kamu akan menjemputku dalam luapan bahagia yang hanya kita yang punya. Lupakah kamu? Diana hanya terpekur memandangi benda mungil segiempat di tangannya.

Lelahku malam ini akan kugantungkan dan aku berdoa untukmu. Hanya untukmu. Untukmu juga cintaku, Dan

Sabtu, November 22, 2008

KESAL SEGUNUNG


Diana tidak bisa menahan sedihnya, ketika tidak dijumpainya kekasihnya -Dan- di tempat biasanya. Dan tidak memberi kabar sama sekali. Padahal kemarin komunikasi mereka lancar. Dan tidak memberitahu jika berhalangan bertemu hari ini. Ada apakah gerangan, Dan? batin Dia. Ponsel Dan mati dan tidak dapat dihubungi. Aneh. Sejam, dua jam hampir empat jam Diana menunggu. Duduk di bangku yang ada di situ. Sendiri.

Antara kecemasan dan kejenuhan membuat Dia melangkah kaki menuju rumah. Pulang. Dan, kamu buat aku kesal berapa kali hanya untuk pertemuan rutin seperti ini? Aku tidak ingin mengingat, apalagi mengungkit bahwa sudah berapa kali kamu ingkar dari sua yang tak pernah membuatku jemu? Ada apa denganmu? Duh, begitu banyak pertanyaan yang mampu menggoyahkan kepercayaanku padamu..... Dan, aku kesal padamu

--bersambung..--