Selasa, Januari 26, 2010

KETIKA ENGKAU DATANG

Ketika engkau datang
tawarkan bahagia untukku
ketika itu kusambut tanganmu
dengan seluruh jiwa ragaku

jalani hari bersamamu
bahagia, tawa, suka, ceria
duka, tangis, kesal, marah
warnai sejarah hidup
serasa melayang dan melambung
yang ada hanya sayang

ukiran itu kini tiada arti
terhempas aku mendapati
penghianatan selama ini

tiada hari tanpa tangis kudapati
terasa berat aku jalani
sia-sia, sia-sia, sia-sia
semuanya terbukti dan nyata
bahwa engkau tidak cintai aku

SEGALA CARA

aku coba segala cara
untuk bisa lupakanmu

kebodohan yang kuperbuat
sungguh kusesali kini
tapi tak ada bubur yang enak
terasa pahit dan asam

betapa hidup ini jahat
dengan adanya titik hitam
pemberianmu

kutertatih merangkak
belajar tegak kembali
menatap hidup yang ternyata
tidak semua hitam

bersama cinta yang kudapat
dari teman dan sahabat
kuukir senyumku kembali

Senin, Januari 25, 2010

Senin, Januari 04, 2010

TAHUN BARU MENANTANG

Tahun 2009 telah berlalu, tanda waktu bergulir menghantar tiap nafas hidup manusia. tahun baru yang akan kulalui terbentang menantang. Langkahku tegap menuju ke depan, meski dengan banyak kaki dan tangan menopangku. Teman-teman yang dengan tulus membantuku untuk tegak dan tidak menoleh kepedihan di waktu lalu yang bisa saja membuatku menjadi lemah dan pudar cintaku padaNya.

Seluruh cerita tentang Diana dan Daniel, berikut puisi Sophia dengan Sang Pujangganya atau puisi tentang "aku" akan aku akhiri mulai dari akhir tahun 2009. Aku akan buat cerita yang lebih baik lagi. Masih akan kugores sebuah cita dan suka yang akan kuraih. Masih banyak yang akan kutoreh dalam lembaran yang baru, bukan dalam lembar usang dengan sejuta khayal.

Realita itu yang akan kujamah. Sebuah tuntunan yang kudapat sebagai kado akhir tahun membuat mataku terbelalak akan sebuah kenyataan. Sakit tapi itu menjadi penguat jiwaku. Pedih karena aku tak menyangka betapa tajam pisau itu menyayat hatiku. Kini, setapak-demi setapak kulangkahkan kaki menuju masa depan yang lebih baik.

Terima kasih Tuhanku, terimakasih temanku dan seluruh yang tahu akan diriku.

Jumat, November 27, 2009

HARI TERAKHIR

Diana hanya bisa mengingat hari terakhir bertemu dengan Dan sekitar 2 bulan yang lalu. Komunikasi seminggu pertama lancar. Merah hijau kuning bagai bunga, demikian juga hati Diana. Memasuki satu bulan terakhir nafas Dia tersendat lagi, apalagi kalau bukan karena kelakuan Dan. Untuk kesekian kali kesabaran Dia masih diuji. Dan menghilang timbul tenggelam tak ada kabar berita.

"Aku sedang ada urusan dan aku ada di luar kota, Di..", demikan bacaan singkat di ponsel Dia setiap kali ditanya ada apa dan mengapa. Jawaban yang memuakkan bagi Dia. Yang ada Dia uring-uringan bawaannya marah. Semakin marah, Dan semakin diam. Diana tahu watak Dan tapi Diana nekad. Terus menerus mempertanyakan komunikasi yang tak
lancar.

Terakhir bahkan, Dan memberitahukan kalau Dia tak perlu lagi mengirim sms atau telpon via ponsel. Gila apa? Lewat apa aku harus komunikasi dengan kamu, Dan... teriaknya. Mengapa kamu tega berbuat seperti ini kepadaku... Kutanyakan kepadamu waktu itu, "Dan, apakah engkau menginginkan perempuan lain?" Kau jawab dengan tegas, "Tidak". "Dan, apakah engkau masih sayang aku?" Kau jawab lantang,"Ya, Diana. AKu akan selalu sayang kamu sampai kapanpun".

Dua bulan berlalu, Dan... aku sangat rindu padamu

DI UJUNG TANDUK

Kala asaku bergoyang di ujung tanduk
berkalung sekarat berkedip-kedip lemah
jika pupus, musna nyawa sudah
lelah menempuh jalan lautan saat

Malam itu dian sedikit sedikit berminyak
aku menatap
nyalanya mulai berpendar-pendar
aku tak percaya
Bibirku bergetar coba meraba
ternyata realita

Pandangi mukjijat kecil yang terjadi
asaku masih sepanjang jalan
biarlah kupupuk agar tumbuh
akan kusiram setiap surya datang
sebagai ungkap syukur dan bakti
pada Sang Waktu yang telah beri

Selasa, November 10, 2009

KUDENGAR SUARAMU

Semalam kudengar suaramu...
menyejukkan dalam duka duriku
membangkitkan seribu suka
yang jutaan detik telah mati

sesak gembira berdesak-desak
tak ingin lepaskan irama
detak jantung yang mengejar
demi sebuah kerinduan

nada bas terngiang-ngiang
tertiup bayu menyentuh kalbu
malaikatpun berbaris berarak
menyambut sang hati...
janganlah kau ambil lagi bahagiaku