Senin, Januari 25, 2010

Senin, Januari 04, 2010

TAHUN BARU MENANTANG

Tahun 2009 telah berlalu, tanda waktu bergulir menghantar tiap nafas hidup manusia. tahun baru yang akan kulalui terbentang menantang. Langkahku tegap menuju ke depan, meski dengan banyak kaki dan tangan menopangku. Teman-teman yang dengan tulus membantuku untuk tegak dan tidak menoleh kepedihan di waktu lalu yang bisa saja membuatku menjadi lemah dan pudar cintaku padaNya.

Seluruh cerita tentang Diana dan Daniel, berikut puisi Sophia dengan Sang Pujangganya atau puisi tentang "aku" akan aku akhiri mulai dari akhir tahun 2009. Aku akan buat cerita yang lebih baik lagi. Masih akan kugores sebuah cita dan suka yang akan kuraih. Masih banyak yang akan kutoreh dalam lembaran yang baru, bukan dalam lembar usang dengan sejuta khayal.

Realita itu yang akan kujamah. Sebuah tuntunan yang kudapat sebagai kado akhir tahun membuat mataku terbelalak akan sebuah kenyataan. Sakit tapi itu menjadi penguat jiwaku. Pedih karena aku tak menyangka betapa tajam pisau itu menyayat hatiku. Kini, setapak-demi setapak kulangkahkan kaki menuju masa depan yang lebih baik.

Terima kasih Tuhanku, terimakasih temanku dan seluruh yang tahu akan diriku.

Jumat, November 27, 2009

HARI TERAKHIR

Diana hanya bisa mengingat hari terakhir bertemu dengan Dan sekitar 2 bulan yang lalu. Komunikasi seminggu pertama lancar. Merah hijau kuning bagai bunga, demikian juga hati Diana. Memasuki satu bulan terakhir nafas Dia tersendat lagi, apalagi kalau bukan karena kelakuan Dan. Untuk kesekian kali kesabaran Dia masih diuji. Dan menghilang timbul tenggelam tak ada kabar berita.

"Aku sedang ada urusan dan aku ada di luar kota, Di..", demikan bacaan singkat di ponsel Dia setiap kali ditanya ada apa dan mengapa. Jawaban yang memuakkan bagi Dia. Yang ada Dia uring-uringan bawaannya marah. Semakin marah, Dan semakin diam. Diana tahu watak Dan tapi Diana nekad. Terus menerus mempertanyakan komunikasi yang tak
lancar.

Terakhir bahkan, Dan memberitahukan kalau Dia tak perlu lagi mengirim sms atau telpon via ponsel. Gila apa? Lewat apa aku harus komunikasi dengan kamu, Dan... teriaknya. Mengapa kamu tega berbuat seperti ini kepadaku... Kutanyakan kepadamu waktu itu, "Dan, apakah engkau menginginkan perempuan lain?" Kau jawab dengan tegas, "Tidak". "Dan, apakah engkau masih sayang aku?" Kau jawab lantang,"Ya, Diana. AKu akan selalu sayang kamu sampai kapanpun".

Dua bulan berlalu, Dan... aku sangat rindu padamu

DI UJUNG TANDUK

Kala asaku bergoyang di ujung tanduk
berkalung sekarat berkedip-kedip lemah
jika pupus, musna nyawa sudah
lelah menempuh jalan lautan saat

Malam itu dian sedikit sedikit berminyak
aku menatap
nyalanya mulai berpendar-pendar
aku tak percaya
Bibirku bergetar coba meraba
ternyata realita

Pandangi mukjijat kecil yang terjadi
asaku masih sepanjang jalan
biarlah kupupuk agar tumbuh
akan kusiram setiap surya datang
sebagai ungkap syukur dan bakti
pada Sang Waktu yang telah beri

Selasa, November 10, 2009

KUDENGAR SUARAMU

Semalam kudengar suaramu...
menyejukkan dalam duka duriku
membangkitkan seribu suka
yang jutaan detik telah mati

sesak gembira berdesak-desak
tak ingin lepaskan irama
detak jantung yang mengejar
demi sebuah kerinduan

nada bas terngiang-ngiang
tertiup bayu menyentuh kalbu
malaikatpun berbaris berarak
menyambut sang hati...
janganlah kau ambil lagi bahagiaku

Jumat, Oktober 30, 2009

SOPHIA BERKATA

Sophia berkata :

ijinkan aku mengerti akan semua misteri ini
agar tak kelam lagi jalanku
kembali bening sebening janjimu

ijinkan aku basuh lelah jiwamu
dengan selendang warna pelangi
yang telah kita rajut siang malam

ijinkan aku kembali menikmati
jerat hangat dalam dekap senyummu
menuju arus telaga surga berwarna

aku ingin selalu bersamamu
kembalilah secepat sang bayu
jemput di tempat aku menunggu
engkau akan tahu betapa aku merindu

SEMBILAN BELAS BULAN SEMBILAN



tanggal sembilan belas bulan sembilan tahun ini

aku memaknainya penuh bunga

pasti engkau juga tak kan lupa

sepanjang pagi hingga siang merambat

tak secuilpun aku tanpamu


hambar kutiti saat ketika kudapati diriku

berteman kerinduan yang tak berkesudahan

pilu memanggil namamu tiada henti

sulitnya menghapus onak air di pipi


rinduku entah dengan apa harus kugambarkan

sayangku entah bagaimana harus kubuktikan

yang kujalani hanyalah melayang.....

menahan kesabaran berujung bahagia


waktu....

jemputlah kekasihku di ujung dunia

atau...

bawalah aku ke ujung dunia itu

agar semua hampa ini berakhir sudah