Jumat, Oktober 30, 2009

LILIN KESEMBILAN

Ketika bunda tau engkau semakin tumbuh
melihatmu tertawa dan menangis
engkau sedang berjuang
untuk semakin dewasa dan mengerti
apa itu kehidupan
menjadi bayi, bocah dan anak
tak banyak yang ibu berikan
hanya yang bisa kamu nikmati
dari kecil hingga tak terhingga
sepanjang hidupmu...
pagi itu lilin ke 9 kau tiup
masih dengan mata sisa tidur semalam tapi bunda tau
kau akan selalu bahagia
jalani hidupmu dengan kesabaran, Nak
jalanmu masih panjang membentang

Selasa, Oktober 20, 2009

BARISAN KATA SINGKAT

Diana sedang tercenung memandangi barisan kata di layar monitor komputer. Apa lagi yang sedang kau perbuat untukku, Dan? Mengapa selalu ada kendala untuk komunikasi kita? Benak Diana penuh tanya.

Dan, kekasih jiwa yang selalu berada di hatinya. Cukup manis dan hangat hubungan mereka untuk sepasang kekasih yang sedang memadu asmara. Penuh warna. Jalinan mereka penuh kerikil, tidak mudah bagi Diana juga Dan melakoni relasi yang penuh makna. Sudah seminggu diana dilarang sms. Telpon hanya diperbolehkan jika Dan menginginkan dengan sms terlebih dahulu. Diana bingung. Sungguh bingung.

Bagaimana mungkin aku harus menunggu sms Dan untuk mau menelponnya? Dan, kalau aku butuh bicara denganmu dalam 5 menit mendatang, bagaimana kamu bisa tau kebutuhanku untuk bicara denganmu? Aku terpenjara dalam keadaan yang tidak kumengerti, dan.

Seperti sekarang, aku ingin bertemu denganmu. Tapi yang kudapat hanya barisa ini yang kupandangi dari tadi. "Diana, aku berterima kasih karena kamu sudah jarang sms aku. Aku banyak pekerjaan dan saat ini aku sangat sibuk. Aku selalu sayang kamu, Dia. Bagaimana mungkin aku melupakan hubungan kita. Kita akan tetap selalu dekat. Bersabarlah. Semua demi kebaikan kita, kebaikan kamu dan aku".

HARAPAN PATAH

harapanku patah seiring perjalanan pagiku
kulihat kekosongan di lembar hidupku
pilu mendesir melagukan kemenangan
kembali aku menyadari aku tiada arti

saatnya belum tiba entah kapan
nafas tersengal sesenggukan berirama
mampu kalahkan gelegar kilat di langit
namun ternyata kau tetap diam membisu

kuasah setiap titian helaan nadiku
kubasuh setiap peluh di titik ronaku
asaku masih sama dengan saat lalu
ingin bertatap bercakap dengan senyummu

Senin, Oktober 19, 2009

MENITI HARI

Meniti hari yang melelahkan,
aku terpuruk dalam sebuah ketidakpastian
meniti saat yang tak berujung
aku terpenjara dalam sebuah pertanyaan

kemustahilan yang berawal kebahagiaan
kau buat seolah nihil kenyataan
kau dera aku dengan kata sabar
sebuah bentuk penyiksaan
membuat aku selalu berputar
namun tak sekata pun terjawab
kau pilih bahagiamu kini
diatas jerit deritaku

pujangga hatiku, kapankah ini berakhir?

Jumat, September 11, 2009

KESAL SEGUNUNG (2)


Diana mendapatkan dirinya terlalu lelah. Dayanya menguap seiring habisnya kekuatan untuk menghubungi Dan, pujaan yang bertahta di hatinya. Sepulang dari sore hampa karena Dan mengingkari janji bertemu, Dia berusaha menghubungi ponsel Dan. Kemarahan sudah lewat, hanya ada kepasrahan dan beribu tanya membekas pikiran Dia.

Sepanjang perjalanan tangannya otomatis menekan nomer yang dia hafal, bahkan sembari terpejam sekali pun, tangannya akan dengan benar mencet nomer kekasihnya. Bukan tidak aktif, justru nada masuk yang menjerit-jerit namun tidak ada jawaban di seberang sana. Kemanakah dirimu, wahai matahariku?, teriak hati Dia. Beberapa terakhir sesudah itu malah ponsel Dan sibuk. Lengkap sudahlah penderitaan Dia sehari ini.

Hanya short message saja yang terkirim berharap Dan membaca dan tergerak hatinya. Terbuat dari apakah hatimu, sayang? Lupakah dengan yang kamu katakan kemarin, ketika pelangi warnai hidup kita. Ketika kamu akan menjemputku dalam luapan bahagia yang hanya kita yang punya. Lupakah kamu? Diana hanya terpekur memandangi benda mungil segiempat di tangannya.

Lelahku malam ini akan kugantungkan dan aku berdoa untukmu. Hanya untukmu. Untukmu juga cintaku, Dan

JEPRETAN KASIH SAYANG

Ketika surya sombong di siang bolong...
dekat denganmu membuatku tetap sejuk
ketika lelah menerpa dengan sejuta cuaca
senyummu tetap membuatku terhibur
potretlah kebahagiaan kita
untuk menjadi tanda ketidaksempurnaan
dan bahwa kita menjadi saksi
sebuah kemustahilan

Rabu, September 09, 2009

PUJANGGA

Hanya kamu, cuma kamu. Percayalah
dan kamu boleh percaya kata-kataku,
kata seorang pujangga ksatria
kepada dewi bulan yang muram
merengut hendak merajuk cinta pujangga
yang amat dipuja

dewi bulan tak hanya percaya
sinarnya tergantung dari pujaannya
demi sebuah angan dan harapan
bahagia hendak dicapai
bersama dengan ksatrianya
muram terhapus bukan khayalan

melintasi langit bertabur bintang asmara
menggapai pusaran laut surgawi
diiringi tembang merdu malaikat
sang pujangga membawa dewi bulan
di dunia penuh warna telaga