Sabtu, Oktober 18, 2008

BAGAI PETANI

Seminggu lebih aku nggak ngupdate blog, padahal ide sudah bermunculan keluar masuk tak tertuang sama sekali. Kesibukan.. yahhh, kesibukan mendera membuat aku tak mengintip my blog. Bagaimana tidak sibuk, teman sekerja mencangkul sawah masih menikmati liburan yang panjang jadi bisa dibayangkan aku bak seorang petani mencangkul 3 petak sawah nan luas. Keringat bercucuran di bawah terik sang surya... yang jelas tak sempat mengerjakan hal lain di luar sawah itu. Jika petani sore hari sudah pulang ke rumahnya, menjelang larut aku baru pulang kandang. Yang terbayang hanyalah sebuah kasur dan selimut yang hangat sebagai pelipur letihku.

Semua itu sebagai pengalaman hidup yang berharga bagiku, bahwa semua yang kulakukan dan kuterima adalah anugerah dan berkat dariNya. Lepas minggu ini aku akan sisipkan waktu untuk share cerita, ide, opini dan galeri, tentu saja. Tunggu saja....

Jumat, Oktober 10, 2008

KUMPUL BOCAH



Gilang, Christ, Nat dan Dwi. Pada sebuah liburan hari raya Fitri.

NAT AND DWI




Selasa, Oktober 07, 2008

AYO BERMAIN

Bangun...bangun... Sudah pagi. Hari ini kita mau pergi ke rumah sodara di Cilangkap. Sebentar lagi Pak De akan jemput. Riuh mewarnai pagi ini, semangat karena akan bertandang ke tempat yang belum pernah dibayangkan.

Hari H ke dua pagi beranjak siang, jalan tidak sepi lagi. Ramai orang menuju tempat wisata, Ragunan dan Taman Mini. Motor kali ini merajai badan jalan. Tua muda kecil besar memasang tawa dan kegembiraan sepanjang jalan. Kami berbaur dengan raungan hari raya mereka. Melesat ke arah Cijantung, Jalan raya Bogor kemudian berkelok di jalan raya Ciracas. Ah... memasuki daerah yang beraroma tanah dan kandang, membuat aku teringat akan tempat tinggal nenek. Nun jauh di sana.

Rumah mungil di alam pedesaan seolah-olah terpencil, sangat welcome untuk kami jejakkan kaki ini. Sambutan ramah sang tuan rumah, nuansa hari raya masih terasa. Gilang dan Dwi bercengkerama dengan Christ dan Nat. Kepolosan dan keluguan bocah yang memang layak bergembira dalam dunia bermain.

Bermalam di sini, menjadi cerita tersendiri bagi mereka. Bermain di arena pesta rakyat yang digelar tak jauh dari rumah. Keceriaan mereka membahana di antara putaran lalu lalang orang. Ada satu hal yang sama, kesenangan harus terhenti sejenak dan kami kembali dalam rumah kami. Cukuplah pengalaman kali ini.

BERSAMA SANDRA DAN MAYA

Hari libur bermain di apartemen. Siang itu kami ngumpul di ruang mungil dengan gembira. Christ dan Nat asyik nonton Spiderwick bersama May. Aku dan Sand berdiskusi tentang ngeblog, nulis artikel, kerjaan dan banyak hal. Jenuh melanda Nat. May mengajak Christ dan Nat keluar ruangan, jalan menelusuri tepian kolam renang kemudian lama duduk di pinggir kolam. Bercanda dengan riang meski tidak harus berenang, celana mereka toh basah juga.

Hari merambat sore kami semua pergi mencari warung yang buka. Makan dalam kebersamaan dan kekeluargaan lebih nikmat rasanya. Jarang-jarang kami bisa berkumpul seperti ini. Kesibukan, yah, masing-masing punya rutinitas sendiri. Kembali dalam ruang elegan, membuat keasyikan bagi dua bocah itu. Sementara malam pun menjemput, kesenangan pun harus terhenti. Perlu waktu lama untuk membujuk, sebab situasi ini baru kali ini didapat.

Cukup untuk hari ini. Esok punya arti sendiri, Nak.

Jumat, Oktober 03, 2008

Hari H

Lebaran tiba juga. Hari yang ditunggu bagi yang telah berpuasa. Hari H aku jalan ke arah Casablanca bersama Christ dan Nat. Aku membayangkan menjadi raja jalanan sebab pasti jalan menyayat tiada kehidupan. Jam 10.00 an aku cabut, meluncur ke luar bintaro. Oo.. diluar dugaan niy..Ternyata macet di sepanjang jalan Kesehatan sampai Tanah Kusir, melebihi keramaian dan kepadatan Senin pagi. Ya ampyun...

Di hari H ini orang masih diuji kesabarannya dan nggak boleh terpancing emosi. Liat saja saat arah mobil satu akan berbelok dan dari arah depan mobil yang lain tak mau ngalah. Lepas Tanah Kusir menuju Pakubuwono barulah aku bisa menikmati sesuai bayanganku, apalagi saat melesat ke arah Sudirman, wow.. Jakarta.. Jakarta, betapa indahnya engkau bila seperti ini.

Sabtu, September 27, 2008

TAK BICARA

kurasa kesedihan tiada tara
entah mengapa rasa ini merayap
dalam sore yang menjemput
dalam kesenyapan yang merenggut
mendengar lengking soraknya
tanpa melihat binar matanya
kutahu dia mendamba

kutercekat dalam telungkup
kutersedu dalam hening
kupenjarakan diriku dalam pembenaran
tak kuasa, mengalir di ujung mataku
semakin mendera tak kenal lelah
seolah mengintai segenap sesal
meminta sebuah keputusan
meminang sebuah permintaan
tak terucap hanya bisu yang ada