Kamis, September 25, 2008

MEMBERI DENGAN SUKACITA

Suatu malam, dalam pertemuan lingkungan saat itu akan membicarakan sebuah tema dalam Alkitab. Seorang ibu datang dalam pertemuan tersebut dengan muka tanpa ekspresi dan sulit ditebak, dia membawa bungkusan dalam tas plastik. Ketika masuk rumah pertemuan itu, dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Beberapa majalah dikeluarkannya kemudian diberikan kepada temannya di situ, seorang ibu juga. Dengan diam, tanpa menegur, tanpa senyum. Temannya menerima tanpa senyum pula sambil berkata lirih,"Terima kasih".

Acara dimulai dengan seorang fasilitator, setelah dibacakan perikop dari Alkitab, yang hadir diajak untuk merenungkan sejenak, dilanjutkan dengan pertanyaan refleksi. Ada sebuah pertanyaan "Sejauh mana kita memberikan sesuatu kepada orang lain dengan tulus hati dan sukarela?" Yah, tema malam itu adalah "Memberi dengan Sukacita"

KEMANA SEMANGATMU?



Minggu malam itu, di salah satu ruang di sisi gereja, berkumpul beberapa gelintir manusia. Hanya 10 orang saja. Semua berlatih tekun dengan partitur yang dalam 1 birama bisa berbeda 2-3 ketukan/hitungan. Meski sedikit dalam jumlah, ditilik dari semangat yang datang tetap besar.
"Mengapa semakin lama semakin sedikit yang datang berlatih ya?", tanya seorang altono kepada temannya saat jeda satu partitur ke partitur yang lain.
"Saat akan lomba beberapa bulan lalu teman-teman banyak yang datang, tapi seiring waktu berjalan, semangat mereka untuk datang latihan lenyap", timpal teman yang lain.

Minggu, September 21, 2008

PEKIK BERPUTAR

TAWA JELATA

PESTA RAKYAT


Malam itu, malam minggu Christ dan Nat kuajak ke "pasar rakyat" yang dekat dengan gubuk kami. Melihat keceriaan mereka membuat sejenak lupa bahwa tempat digelarnya pesta ini diatas tanah kosong yang biasanya menjadi tumpukan sampah. Tidak terbayangkan betapa joroknya sewaktu hujan datang... untung saat ini kering tiada rintik mengguyur. Tetap berdebu dengan sampah kering berserakan. Pesta ini bukan cuma pesta anak, ada orang tua yang ikut bergembira menikmati hiburan dengan membayar Rp. 3.000 setiap wahana yang ada. Disitu pula para remaja muda mudi bergandengan tangan menyusuri lapak, bagi yang belum punya pasangan, beramai-ramai memenuhi pesta untuk kalangan menengah ke bawah itu sembari senyam-senyum jika melihat lawan jenis yang terlihat memikat di hati.

Minggu, September 14, 2008

VIVA ST. NIKODEMUS


Minggu siang 7 September 2008 sekitar jam 10.00 di halaman gereja St Nikodemus berkerumun banyak orang. Bukan karena huru hara atau kerusuhan, siang itu ada seremoni launching website gereja St Nikodemus.

Peresmian dilakukan oleh Rm. Gunawan Pr dan Rm Dionysius CSsR dengan pengguntingan pita dan diterbangkannya balon warna-warni ke angkasa. Website ini disambut gembira seluruh umat dengan harapan dapat menjadi media informasi dan komunikasi yang lebih baik di seluruh umat paroki St Nikodemus khususnya, sesama umat beriman umumnya. Umat bisa mengambil hal positif dari kecanggihan tehnologi seperti yang sedang berkembang di era multimedia seperti sekarang ini, jangan malah menjadi ajang saling mengejek apalagi menyinggung SARA.

http://www.nikodemus.org, dapat diakses oleh masyarakat, silakan kunjungi dan kenal dengan hangat, karena kehangatan akan memberi kedamaian dimanapun kita berada.

Viva Nikodemus!

TAK LUPA NEGERI SENDIRI







Hari Sabtu kemarin aku berkunjung ke Canisius Education Fair. Pameran Pendidikan ini dibuka dengan beberapa sambutan dan aku berani bertaruh, pasti tidak semua pengunjung menyimak dengan baik apa yang dikatakan petinggi sekolah homogen itu. Suasana di out door, disamping lapangan bola nan luas membuat para pengunjung bebas mampir kemana saja, bisa mampir ke bazar makanan atau berhaha hihi dengan temannya - yang ini biasanya alumni sekolah tersebut - mereka bercengkerama, bercanda dan tidak peduli dengan sambutan yang disampaikan di atas panggung. Tidak semua ternyata, ada yang dengan tekun duduk manis mendengarkan seremonial itu selama kurang lebih 30 menit, patut diacungi jempol pengunjung yang seperti ini.

Dan sesuatu yang ditunggu oleh pengunjung dimana terdiri dari tua - kaum orang tua murid -, muda - teman-teman yang sekolah di situ atau alumni - tumplek di sekitar lapangan bola. Apa yang mereka tunggu? Sebuah suguhan yang jarang terjadi, tari kolosal dari bali, Tari Kecak. Siapa penarinya? Penarinya adalah seluruh siswa dan guru Kanisius semuanya sekitar 650 orang dan lelaki semua (Mana ada siswa Kanisius cewek ya?)

Gung Panji, panggilan akrab sang pelatih tampak sebagai dalang yang membawakan cerita kutipan dari Ramayana digambarkan di situ pasukan Hanoman melawan raksasa. "Perang" dimenangkan oleh pasukan Hanoman dengan membawa bendera Kanisius digiring ke atas panggung. Dan saat penutupan nanti kemenangan pasukan Hanoman membawa obor sebagai tanda sinar pencerahan. Tentunya ada maksud dari semua itu, terutama sehubungan dengan Edufair kali ini. Gung Panji mengatakan, dia baru kali ini membawakan Tari Kecak dengan personil 650 orang, biasanya sekitar 100 an orang... Wow, pengalaman baru dong Gung?

Tak hanya sajian tari bali, seluruh dekorasi dari gerbang masuk sampai panggung didominasi etnik bali dengan warna hitam dan putih. Suatu yang sangat indah karena kebudayaan Indonesia sangat kaya dan tidak perlu kita mengimpor budaya luar negeri.

Bagaimana dengan pendidikan? Hal yang sangat berbeda, jika boleh dan ada kesempatan belajar di luar negeri kenapa tidak? Menimba ilmu sampai negeri Cina, demikian kata orang bijak. Sesudah menimba ilmu di negeri orang? Jangan lupa kembali untuk membangun negerinya sendiri, bukan membangun negeri orang lain. Karena negeri ini masih membutuhkan orang pandai dan berintelek tinggi. Tentu saja jika sudah berintelek tinggi tidak meninggalkan kerendahan hati dan hati nurani demi membangun negeri ini dengan baik.

Di sinilah, di Canisius Education Fair 2008 yang berlangsung 13-14 September 2008 ada sekitar 66 stand perguruan tinggi di Indonesia dan luar negeri yang dapat dikunjungi. Berbagai fasilitas akademik ditawarkan di sini, tinggal pilih saja sesuai kemampuan dan keinginan.